Pages

Wanita - wanita Penghuni Surga

Bagian 4

Fatimah az-Zahra*



Dia adalah Fatimah binti Muhammad atau lebih dikenal dengan Fatimah az-Zahra (Fatimah yang selalu berseri).Fatimah az Zahra adalah putri Nabi Muhammad saw dan Khadijah al Kubra. Beliau adalah anak perempuan keempat Rasulullah saw. Beliau memiliki banyak nama panggilan, di antaranya ialah: Az Zahra (yang bersinar cemerlang), Shiddiqah (yang membenarkan), Thahirah (yang suci), Mubarakah (yang diberkati), Radhiyah (yang ridha), Mardhiyah (yang diridhai), Muhadatsah (yang berbicara dengan malaikat di masa kecil), dan Batul.

Andaikan kita adalah putri kesayangan seorang pemimpin nomer satu sebuah bangsa besar, kira-kira kehidupan seperti apa yang akan kita jalani? Mungkin bermacam bayangan terlintas di benak kita, tapi bisa jadi tak banyak yang membayangkan kehidupan seperti yang pernah dijalani Fatimah Az-Zahra RA, putri kesayangan seorang pemimpin besar yang menempati urutan pertama tokoh paling berpengaruh di dunia sepanjang sejarah manusia.

Sejak kecil, Putri Kesayangan ini telah akrab dengan kelaparan yang harus dijalaninya demi cinta dan ketaatannya kepada Tuhannya dan ayahnya. Ketika Bani Hasyim dan Bani Muthalib diboikot dan dikucilkan oleh kaum Quraishy, mereka harus melalui hari-harinya selama tiga tahun dalam kelaparan. Diriwayatkan bahwa naluri keibuan Khadijah begitu perih melihat putri kecilnya kelaparan, “Kasihan engkau anakku, dalam usia begini muda engkau sudah harus merasakan penderitaan seberat ini.” Namun, tak disangka, si kecil menjawab, “Aku tidak apa-apa Bu, justru kami lah yang kuatir akan keadaan ibu.” Kalimat mengagumkan ini meluncur dari bibir mungil gadis cilik berusia lima tahun.

Ketika mulai dewasa pun “peruntungan materialnya” tidak berbeda. Fatimah dinikahkan dengan seorang pemuda miskin yang hanya bisa memberikan baju besinya sebagai mas kawin. Hanya saja, suaminya ini dikenal sebagai salah satu hamba Allah yang paling luas ilmunya, paling mula memeluk Islam, dan paling tinggi derajatnya di hadapanNya, bahkan telah dijamin masuk surga lewat jalur cepat sebagaimana istrinya. Fatimah juga telah mengenal Ali, suaminya, sejak kanak-kanak karena mereka tumbuh bersama dalam asuhan Muhammad dan Khadijah.

Kehidupan Fatimah sebagai anak pembesar memang tergolong “unik”. Dia tak mempunyai pembantu karena memang tak sanggup membayarnya. Dia menumbuk gandum sendiri tiap hari sampai tangannya lecet dan bajunya lusuh karenanya. Ali yang tidak tega melihat “penderitaan” istrinya menyuruh Fatimah menemui ayahnya untuk meminta seorang pembantu. Tapi Muhammad SAW, yang tidak ingin melihat ada anggota keluarganya hidup berlebih selama masih ada orang lain yang kekurangan, tidak mengabulkannya. Sebagai gantinya, ayahnya mengajarkan doa kepadanya agar dia dikuatkan dalam menghadapi hidup ini.

Ketika dia sakit Rasulullah menjenguk, “Apa yang kau rasakan anakku?” Putrinya menjawab, “Sakit ayah… dan aku juga merasa lapar karena tak ada makanan untuk dimakan.” Rasul menangis mendengarnya dan membesarkan hati putrinya, “Puaskah engkau anakku menjadi pemuka seluruh wanita di alam ini?”

Ketika ada seorang pengembara miskin mendatangi Rasul untuk meminta sedekah, Rasul menyuruhnya meminta kepada Fatimah karena beliau tidak punya apa-apa lagi saat itu untuk disedekahkan. Fatimah sebenarnya juga tak memiliki apa-apa untuk disedekahkan, sebelum akhirnya dia teringat pada kalungnya dan lantas memberikannya begitu saja kepada si pengembara sebagai sedekah.

Nampaknya Allah begitu ridha pada keikhlasan Fatimah, sehingga akhirnya kalung itu bisa kembali kepadanya setelah Abdurrahman bin Auf membelinya dari si pengembara dan memberikannya kepada Rasul beserta seorang budak, dan Rasul lantas memberikan kembali kalung itu ke Fatimah beserta budak pemberian Abdurrahman. Fatimah menerima kembali kalungnya dan membebaskan budak itu walaupun sebenarnya dia sangat membutuhkan seorang pembantu. Buah dari kedermawanan dan keikhlasan putri miskin ini telah menolong seorang pengembara miskin, membebaskan budak, dan mengembalikan kalung satu-satunya kepadanya.

Apakah Fatimah membenci dan berontak kepada ayahnya karena merasa telah dijerumuskan dalam kehidupan sulit ini? Tidak sama sekali! Sebaliknya, cintanya begitu besar kepada ayahnya karena dia sangat meyakini kebenaran dan kemuliaan prinsip ayahnya. Dialah putri yang dengan menangis dan penuh kasih membersihkan kotoran dari kepala ayahnya akibat lemparan benda najis musuh-musuhnya. Dia juga yang bersama ayahnya membersihkan kotoran-kotoran najis yang dilemparkan ke rumah mereka.

Fatimah pula yang menurut Aisyah RA paling menyerupai ayahnya dan paling dicintai ayahnya. Dia adalah putri yang menangis begitu pedih ketika menyadari malaikat maut telah mendatangi ayahnya, namun tersenyum bahagia ketika ayahnya membisikkan ke telinganya bahwa dialah anggota keluarganya yang pertama kali akan “menyusulnya.” Dialah salah satu wanita yang telah dinobatkan sebagai sebaik-baik wanita di seluruh jagad raya bersama ibundanya, Khadijah, Maryam, dan Asiyah…

Bisa jadi kehidupan Fatimah ini (dan juga ayahnya) dianggap sebagai sebuah kekonyolan oleh mereka yang memandang bahwa hidup di dunia adalah kehidupan yang sebenarnya. Dia memiliki banyak kesempatan untuk hidup lebih enak, tapi dia tak mengambilnya. Namun, mereka yang tahu bahwa kehidupan di dunia bukan titik akhir dari kehidupan ini akan kagum pada cara hidup Fatimah yang begitu luar biasa, dan bagaimana dia akhirnya mendapatkan ridha dan cinta dari Sang Pemilik Kehidupan ini karenanya.

Disamping itu Fatimah juga mengambil peran dalam Peperangan di Masa Awal Islam

Selama 10 tahun pemerintahan Nabi saw di Madinah, terjadi 27 atau 28 peperangan (ghazwah) dan 35 sampai 90 Sariyah. Ghazwah ialah peperangan yang langsung dipimpin oleh Nabi saw dan beliau melihat dari dekat proses terjadinya peperangan dan segala taktik dan strategi perang berada dalam control beliau langsung. Sedangkan Sariyah adalah peperangan yang tidak langsung dipimpin oleh Nabi saw, namun beliau menunjuk sahabatnya untuk memimpin peperangan.
Terkadang Sariyah ini menyita waktu cukup lama (sekitar dua atau tiga bulan) karena jauhnya gelanggang peperangan dari Madinah. Dapat dipastikan bahwa Ali bin Abi Thalib selama menikah dengan Fatimah banyak menghabiskan waktunya di medan peperangan atau diutus sebagai juru dakwah. Selama ketidakhadiran suaminya, Fatimah dengan baik mampu memerankan sebagai ibu yang ideal bagi anak-anaknya dan ia berhasil mendidik mereka sebaik mungkin, sehingga Ali begitu tenang meninggalkan keluarganya dan tidak pernah memikirkan urusan pendidikan anaknya dan konsentrasinya benar-benar terfokus hanya pada jihad. Selama masa ini, Fatimah juga membantu keluarga syuhada dan berbelasungkawa kepada mereka, dan terkadang ia memotifasi para wanita yang menjadi sukarelawan yang mengobati dan menangani korban perang dan tak jarang Fatimah terjun langsung menolong para korban luka-luka akibat perang. Dalam perang Uhud, misalnya, Rasulullah saw mengalami luka parah. Fatimah beserta Ali, suaminya cukup bekerja keras untuk menghentikan pendarahan yang dialami ayahnya dimana sejarah menceritakan bahwa Fatimah membakar semacam jerami lalu menebarkan abunya ke luka ayahnya sehingga darahnya terhenti.

Fatimah dan Kepergian Nabi saw


 Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam Musnad-nya
dari Aisyah yang berkata: Ketika Rasulullah saw sakit, maka beliau
memanggil putrinya Fatimah. Lalu beliau menghiburnya tapi Fatimah malah menangis kemudian beliau menghiburnya kembali lalu ia tertawa. Lalu aku bertanya kepada Fatimah perihal hal itu. Fatimah menjawab: Aku menangis karena ia memberitahuku bahwa ia akan meninggal dunia sehingga aku menangis, kemudian dia memberitahuku bahwa aku yang pertama kali menyusulnya di antara keluargaku sehingga aku tertawa. Pengarang kitab Kasyful Ghummah pada juz dua dalam kitabnya mengatakan: Karakter manusia biasanya membenci kematian dan berusaha lari darinya. Yang demikian ini karena manusia cinta dan cenderung kepada dunia—kami tidak dapat menyebutkan semua riwayat ini karena begitu panjang—sedangkan Fatimah as adalah wanita muda yang masih mempunyai anak kecil dan suami yang mulia. Ironisnya, ketika ayahnya memberitahunya bahwa ia yang tercepat di antara keluarganya yang akan menyusul Nabi maka ia merasa sedih terhadap kematian ayahnya dan justru tertawa dan bahagia karena
ia pun akan meninggalkan dunia dan berpisah dengan kedua anaknya dan suaminya. Fatimah justru bergembira ketika akan menjemput mati. Ini adalah masalah yang besar dimana manusia tidak akan mampu mengenali sifatnya dan hati tidak terbimbing untuk mengetahuinya. Hal yang demikian adalah suatu masalah yang Allah SWT mengajarkannnya kepada keluarga yang mulia ini dan suatu rahasia dimana Allah memberikan kepada mereka keutamaan dan mengkhususkan mereka dengan mukjizat-Nya
dan tanda-tanda kebesaran-Nya.

 Diriwayatkan dari Imam Baqir as yang berkata: Sepeninggal Rasulullah saw, Fatimah tidak pernah terlihat dalam keadaan tertawa sehingga ia meninggal dunia.

Diriwayatkan dari Imam as Shadiq yang berkata: Ada lima orang yang suka menangis:
Adam, Ya`qub, Yusuf, Fatimah binti Muhammad dan Ali bin Husain as. Adapun Adam, ia menangis karena harus meninggalkan surga dimana ia diletakkan di suatu lembah, sedangkan Ya`qub, ia menagisi Yusuf hingga matanya buta, sedangkan Yusuf menangisi perpisahannya dengan Ya`qub hingga terganggu karenanya para penghuni penjara, adapun Fatimah, ia menangis karena kepergian Nabi saw sehingga karenanya penduduk Madinah terganggu. Bahkan mereka berkata kepadanya, banyaknya tangisanmu membuat kami terganggu. Lalu Fatimah pergi ke makam syuhada dan menangis di sana sampai puas lalu ia pulang. Sedangkan Ali bin Husein menangis karena kesyahidan ayahnya selama dua puluh tahun atau empat puluh tahun

Diriwayatkan bahwa Ali berkata: Ketika aku mencuci baju Nabi saw maka Fatimah berkata, perlihatkanlah kepadaku baju itu. Lalu Fatimah menciumnya dan pingsan. Takkala aku mengetahui hal itu maka aku menyembunyikan pakaian itu (hingga kejadian ini tidak terulang kembali).

Takkala Nabi saw meninggal, Bilal tidak mau mengumandangkan azan dimana ia berkata: Aku tidak mau mengumandangkan azan untuk seseorang setelah meninggalnya Nabi saw. Kemudian pada suatu hari Fatimah berkata: Aku ingin mendengar suara muazin ayahku yang mengumandangkan azan. Lalu hal tersebut sampai ke telinga Bilal sehingga ia mengumandangkan azan dan memulainya dengan takbir "Allahu Akbar". Fatimah mulai mengingat-ingat kebersamaannya dengan ayahnya sehingga ia tidak mampu membendung air matanya. Dan ketika Bilal sampai ke kalimat "Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah", Fatimah tidak kuasa menahan dirinya dan ia pun terjatuh pingsan. Kemudian mereka mengira bahwa ia telah mati dan Bilal pun tidak melanjutkan azannya. Takkala Fatimah sadar, ia meminta Bilal untuk melanjutkan azannya namun Bilal dengan berat hati menolak sambil berkata: Wahai penghulu para wanita, aku khawatir terjadi sesuatu pada dirimu. Dan Fatimah pun mengerti kecemasan Bilal dan memaafkannya.

Diriwayatkan bahwa Fiddah, pembantu wanita Fatimah berkata kepada Waraqah bin Abdullah al Azdi: Ketahuilah bahwa ketika Rasulullah saw meninggal dunia, maka orang tua dan muda sangat terguncang dengan kematiannya dimana mereka semua larut dalam tangisan. Musibah ini sangat berat dipikul oleh kaum kerabat beliau dan para sahabatnya. Dan tak seorang pun yang lebih bersedih dan lebih banyak menangis daripada tuanku, Fatimah dimana selama tujuh hari Fatimah mengadakan mejelis ratapan. Selama hari-hari itu Fatimah tidak pernah berhenti menangis dan merintih, bahkan setiap hari tangisannya lebih banyak dari hari sebelumnya. Dan ketika memasuki hari kedelapan, Fatimah meluapkan kesedihannya yang terpendam dimana ia meratapi ayahnya: Oh ayahku, oh pilihan Allah, oh Muhammad, oh Abu Qasim, duhai pelindung para janda dan yatim, siapa lagi yang mendirikan shalat, siapa lagi yang melindungi putrimu yang kehilangan orang tuanya! Bahkan dikatakan bahwa Fatimah kehabisan suara saat meratapi ayahnya dan sempat mengalami pingsan. Lebih jauh lagi, ia berkata: Duhai ayah, sepeninggalmu aku bak orang yang hidup sendirian. Kehidupanku dipenuhi dengan duri-duri bencana dan petaka. Sepeninggalmu banyak peristiwa besar terjadi yang membuat kami menderita dan semua jalan tertutup buat kami hingga kami tak dapat meloloskan diri. Sepeniggalmu aku kecewa melihat dunia ini dan aku senantiasa menangis. Kemudian Fatimah membacakan syair:

Tiap hari aku memperbaharui kesedihanku atasmu

Demi Allah, luka hatiku semakin besar dan berat

Tiap hari deritaku semakin menjadi-jadi

Beratnya perpisahnku denganmu tak dapat dipungkiri

Adalah benar di dalam hati ada kesabaran

Namun sunguh berat mempertahankannya saat berkenaan denganmu


Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib bahkan membangun rumah untuk Fatimah di Baqi yang terkenal dengan sebutan "Baitul Ahzan" (rumah kesedihan). Saat pagi hari, Fatimah membawa Hasan dan Husein ke Baqi dan menangis di sana. Akhir Hayat Fatimah diriwayatkan bahwa Abi Abdillah ash Shadiq as berkata: Fatimah meninggal pada bulan Jumadil Akhir, hari Selasa, tahun sebelas Hijrah.

Diriwayatkan dari Ummu Salma, istri Abi Rafi` yang berkata: Fatimah sakit. Di hari menjelang kematiannya, ia berkata: Datangkanlah untukku air! Lalu aku menuangkan air untuknya hingga ia mandi dengan air tersebut dengan cara yang terbaik. Kemudian ia berkata: Bawalah untukku pakaian yang baru hingga aku dapat memakainya. Lalu Fatimah berbaring dan menghadap kiblat dan ia meletakkan tangannya di bawah pipinya dan berkata: Sebentar lagi aku akan meninggal...

Diriwayatkan dari Jabir al Anshari yang berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw berkata kepada Ali bin Abi Thalib as—tiga hari sebelum beliau meninggal: Salam kepadamu wahai ayah dua sekuntum bunga. Aku berwasiat kepadamu tentang dua sekuntum bungaku di dunia. Demi Allah wahai khalifahku, sebentar lagi dua sandaranmu akan roboh. Ketika Rasulullah saw meninggal, Ali as berkata: Inilah salah satu sandaran yang dikatakan Rasul saw padaku dan takkala Fatimah meninggal, Ali berkata: inilah sandaranku yang kedua.

Referensi:
http://id.wikipedia.org/wiki/Khadijah_binti_Khuwailid

 


fatimah azzahra adalah sesosok bidadari yang selalu memberiku inspirasi dan nostalgia yang selalu merembeskan mata sekaligus menyejukkan jiwa..

ya Fatimah,, Engkau memang bidadari terindah,
senyummu selalu terukir dalam tiap akhir salam ku

semoga, kakak ku telah berjumpa denganmu di surga sana..
dan,, tunggulah aku,

larikkan aku sedikit lentera agar aku mudah..
di tiap jlanku, arahku,

senantiasa dalam ridhoNya [anisa AZzahra]

http://ABNA.co. Blogspot.com/Fatimah Az-Zahra
http://kawanimu.Blogspot.com/Animasi
http://kucingkampung27.wordpress.com/4-wanita-terbaik-sepanjang-zaman/ 
 
  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

0 Response to "Wanita - wanita Penghuni Surga"

Posting Komentar